Peristiwa Sejarah, 24 Ramadan 1275 dan Meletusnya Perang Banjar

Ilustrasi meletusnya perang Banjar melawan penjajah. Foto-net

apahabar.com, BANJARMASIN – Dalam catatan sejarah, banyak peristiwa yang terjadi di bulan Ramadan.

Ramadan adalah bulan diturunkannya Alquran. Pada 17 Ramadan 13 tahun sebelum hijriah (awal Februari 610 Masehi), Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama.

Kemudian Perang Badar terjadi pada Jumat, 17 Ramadan tahun 2 Hijriyah (13 Maret 624 Masehi).

Peristiwa lainnya, Pembebasan Kota Makkah pada 20 Ramadan tahun 8 Hijriyah, yang dikenal dengan Fathu Makkah, serta sederet peristiwa lainnya.

Demikian halnya dalam lintas sejarah Banjar.
Pada hari Kamis 24 Ramadan 1275 H bertepatan dengan tanggal 28 April 1859 adalah momentum meletusnya Perang Banjar.

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan sekaligus Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin, Mansyur, menyebutkan itu merupakan perang heroik.

Di mana, kata Mansyur, bentuk perlawanan urang Banua terhadap cengkeraman kolonialisme Belanda di Tanah Banjar, 161 tahun yang lalu.

“Dalam buku babon Sejarah Banjar (2013), dituliskan pada pagi Kamis, sejumlah 50 orang pasukan Muning (Rantau) yang datang terlebih dahulu sangat bernafsu menyerbu benteng tersebut,” tulis Mansyur dalam catatannya yang masuk ke dapur redaksi apahabar.com, Rabu (5/4/2021).

Dia menyebut, serangan itu semacam serangan pancingan dan kemudian mundur. Pada malam harinya yaitu malam Jumat 29 April 1859 atau 25 Ramadhan 1275 H, pasukan Muning yang datang kemudian telah tiba, berjumlah ribuan.

Pasukan ini bertambah besar setelah pasukan Riam Kiwa, pimpinan Pangeran Antasari tiba.
Pasukan ini sebagian dikirim memperkuat pertahanan di Martapura. Sebagian lagi menyerbu benteng Belanda di Kalangan dan Tabanio.

Pasukan Muning dan Riam Kiwa yang bertahan menyerbu Tambang Oranje Nassau berjumlah 500 orang.

Ditambah bergabungnya 165 buruh tambang batubara. Pasukan Belanda yang kecil jumlahnya memilih bertahan dalam benteng.

Dalam pertempuran yang berlangsung beberapa hari jumlah korban berjatuhan di antara kedua belah pihak.

“Usaha menyerbu benteng itu tidak berhasil. Pasukan Muning dan Riam Kiwa berusaha mengurung benteng itu dari luar, sampai persediaan bahan makanan mereka pun habis,” terang Mansyur.

Salah seorang Belanda yang berusaha keluar untuk pergi mencari bantuan ke Banjarmasin, dibunuh di Desa Sungai Raya.

Perhitungan ternyata meleset, sebab Belanda mampu bertahan dalam tambang, sementara menunggu bantuan datang.

Sementara itu pasukan Muning yang menyerbu Benteng Belanda di Kalangan, Gunung Jabok, Sungai Durian dan Tabanio sebagian berhasil menghancurkan kekuatan Belanda.

“Semua orang Belanda di Benteng Kalangan dan Tabanio dibunuh, termasuk opsir kesehatan bernama Diepenbroek,” ujar Mansyur.

Untuk menghadapi serangan ini Pemerintah Belanda mengadakan konsolidasi.

Pada 1 Mei 1859 pemerintah sipil diganti dengan pemerintahan militer dan dipegang Kolonel Andresen.

Kolonel Andresen memerintahkan Kapten Uhalan menyerbu Martapura. Sementara Letnan Beekman bertugas mempertahankan pos-pos yang ada.

Setelah 6 pekan bertahan dalam benteng Oranje Nassau, bala bantuan Belanda tiba.

Pada tanggal 15 Juni datang 250 pasukan Belanda, pasukan artileri, pasukan zeni dengan beberapa pucuk meriam membantu pasukan Belanda di Tambang Oranje Nassau.

“Kemudian pada bulan Juni itu pula datang 9 batalyon infantri, 43 artileri dengan 4 pucuk meriam, 2 pucuk meriak kecil dan 2 montir. Kolonel Andresen diangkat menjadi Panglima,” terang Mansyur.

Kala itu, Mangkubumi Pangeran Hidayat masih tinggal di Martapura dan Kolonel Andresen telah berusaha memulihkan keadaan.

Siasat yang dilakukan Andresen menempatkan Pangeran Hidayat pada kedudukan yang sewajarnya sebagai Sultan dan menurunkan Pangeran Tamjidillah.

Meskipun Andresen yakin penyerbuan terhadap kalangan dan pembunuhan terhadap 20 orang Belanda termasuk anak-anak dan wanita adalah kesalahan dan atas perintah Pangeran Hidayat, tetapi kesalahan itu dimaafkan demi terciptanya ketenteraman negeri.

Andresen yakin suasana tenteram kembali kalau Pangeran Hidayat dijadikan Sultan.

Meskipun Andresen telah memperoleh 2 lembar surat perintah yang ditandatangani Pangeran Hidayat dan ditujukan kepada kaum ulama untuk bangkit melawan Belanda.

Andresen selanjutnya mengadakan rapat-rapat dengan pimpinan-pimpinan rakyat agar mereka tidak memihak Pangeran Antasari, yang oleh Belanda dianggap sebagai pemberontak.

Andresen selanjutnya akan melaksanakan taktik dan strateginya dengan melantik Pangeran Hidayat sebagai Sultan pada tanggal 25 Juni 1859.

Penyerangan terhadap Oranje Nassau dipimpin langsung Pangeran Antasari dibantu oleh Pembekal Ali Akbar, Mantri Temeng Yuda Panakawan Sultan Kuning.

Pada 30 April 1859 atau 26 Ramadan, kekuatan rakyat telah berkumpul di sekitar Sungai Durian dekat Kalangan.

Penyerbuan Kalangan, Banyu Irang dan Bangkal dilaksanakan pada 1 Mei 1859 dibawah pimpinan Pangeran Ardhi Kasuma, paman Pangeran Hidayat.
“Benteng Kalangan dihancurkan dan 20 orang Belanda yang menjadi korban di antaranya Wijnmalen, Direktur tambang batubara Kalangan, Ir. Motley, Opzichter School Boodt dan lain-lain,” beber Mansyur.

Pasukan dari Muning yang menyerbu tambang batubara Hermina di Sungai Durian, dan tambang batubara di Gunung Jabok berhasil menewaskan pegawai Belanda yang bekerja di tambang itu.

Sementara itu pasukan yang menyerbu benteng Tabanio bersama rakyat dibawah pimpinan Haji Buyasin telah menewaskan pejabat Gezaghebber Maurits dengan anak buahnya.

Mereka pun menduduki benteng Belanda yang dibangun tahun 1790 tersebut.

Penulis: Mada Al Madani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *