Catat, 5 Hal yang Patut Direnungkan Sebelum Ramadan Berakhir

Ilustrasi. Foto-Net

apahabar.com, BANJARMASIN – Ramadan tinggal delapan hari lagi. Namun, apa yang sudah kamu dapatkan?

Semakin berada di ujung-ujung momen puasa, godaan semakin banyak.

Kita disibukkan persiapan lebaran, beli baju, perawatan diri, masak-masak dan sejenisnya.

Godaan itu jadi ujian keistiqomahan kita dalam beribadah.

Godaan itu juga jadi ujian bagi keberpihakan hati kita, apakah Ramadan ini sebatas untuk dilewati atau hal yang sangat berharga?

Mumpung belum benar-benar berakhir, mari kita merenungkan arti Ramadan di waktu-waktu yang tersisa ini dengan beberapa pertanyaan berikut dikutip dari idntimes.

1. Sudahkah kita menggunakan waktu dengan baik?

Rasulullah SAW pernah bersabda kepada seorang laki-laki dan menasihatinya;

“Jagalah lima perkara sebelum (datang) lima perkara (lainnya). Mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Nasai dan Baihaqi).

Waktu adalah hal yang selalu disesalkan oleh para manusia.

Mereka tahu dengan baik bahwa waktu sangat singkat sedangkan pekerjaan begitu banyak.

Jika waktu malah disia-siakan, maka semakin sedikit peluang untuk menyelesaikan semua urusan yang kita punya.

Terutama di bulan Ramadan, waktu yang ada seharusnya kita gunakan dengan baik karena momen ini hanya datang setahun sekali.

Sudahkah kita menggunakan waktu yang ada untuk beramal secara maksimal?

2. Sudahkah hati kita merasa senang dengan kehadiran Ramadan?

“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” HR. Ahmad

Hadits tersebut sangat menganjurkan kita untuk merasakan kegembiraan dalam menyambut dan menjalani Ramadan.

Keberkahan sekaligus jaminan kebaikan yang tiada tara cukup menjadi alasan kuat bagi kita untuk merasakan kebahagiaan yang tulus.

3. Sudahkah amal soleh kita kerjakan dengan maksimal?

Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Banyak amal sholeh yang bisa kita kerjakan di bulan Ramadan, baik amal wajib maupun sunnah.
Amal wajib punya nilai pahala yang sangat besar, begitu juga dengan amal sunnah di bulan Ramadan.

Mulai dari salat wajib, salat sunnah, tarawih, witir, tilawah Qur’an, sedekah, zakat dan i’tikaf.

Semua ibadah itu selayaknya kamu kerjakan dengan maksimal dari sisi intensitas maupun level keikhlasan.

4. Sudahkah kita membuang kebiasaan buruk?

Dalam kitab Riyadhush-Shalihin, Imam an-Nawawi menukil sebuah hadits yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi dari Jabir RA.

Pada suatu kesempatan, Nabi SAW berkumpul dengan sahabatnya, lalu memberi petuah yang menggetarkan hati.

“Sesungguhnya, yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan, sungguh yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh duduknya denganku pada hari kiamat adalah al-tsatsaruun dan al-mutasyaddiquun serta al-mutafaihiquun,” kata Rasulullah SAW bersabda.

Kebiasaan buruk pada umumnya akan berujung pada kesia-siaan dan maksiat atau dosa.

Perbuatan buruk pun tidak bisa beriringan dengan kebaikan dalam diri manusia.

Keduanya yang terus bergesekan pada akhirnya akan menghasilkan menang dan kalah.

Demi keselamatan diri di dunia akhirat, tentu kita harus bisa memenangkan kebaikan sebagai lentera di hati kita.

Momen Ramadan sudah sepantasnya jadi momen terbaik bagi kita menggerus semua kebiasaan buruk itu.

Tujuannya adalah agar amal sholeh istimewa yang ingin kita persembahkan bisa berjalan lancar dan maksimal di bulan suci ini.

5. Sudahkah kita menjaga hati dan emosi dengan baik?

Alquran menasihati kita, ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujurat [49]: 12).

Hati dan emosi adalah hal yang semestinya kita jaga dari segala macam penyakit jiwa.

Penyakit itu sangat mudah menghampiri karena begitu halus dan tidak terlihat.

Iri, dengki, benci, dendam dan marah adalah emosi-emosi yang bisa berdampak buruk pada kepribadian.

Sudah sepantasnya, puasa bisa menjadi perisai bagi hati dan emosi kita agar tetap terjaga.

Sudahkah kamu merenungkan semuanya? Jika belum, masih ada waktu kok untuk memperbaiki diri. Selamat mencoba!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *