Beratnya Menjadi Pemimpin

Ilustrasi Sumber: net

apahabar.com, JAKARTA – Kepemimpinan bukanlah alat untuk mendapatkan pelayanan, keuntungan materi, ataupun popularitas. Kepemimpinan adalah tanggung jawab dan amanah yang sangat besar lagi berat hisabnya.

Begitu kata KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym dalam sebuah tausiyahnya yang dikutip dari Sindonews, Selasa (11/5).

Suatu malam, Aa Gym bercerita, Khalifah Umar bin Khattab RA didampingi oleh pelayannya yang bernama Aslam pergi ke sebuah tempat di pinggiran Madinah, bernama Sirar ini Umar melihat api menyala.

“Hai Aslam, aku melihat para musafir tidak dapat melanjutkan perjalanan karena hari sudah malam dan udara dingin. Mari kita temui orang-orang itu,” kata Umar.

Setibanya di tempat yang dituju, keduanya menemui mereka. Umar kemudian mengucap salam, “Assalamu ‘alaikum wahai pemilik cahaya.”

Umar tidak menggunakan kata-kata “Wahai pemilik api”. Shahubun-Nar, secara bahasa adalah pemilik api. Tapi dia pun bermakna “pemilik neraka”.

Seorang wanita dengan beberapa orang anak kecil yang tengah menangis kemudian menjawab, “Wa ‘alaikumussalam.”

“Bolehkah aku mendekat?” tanya Umar.

“Silakan jika engkau bermaksud baik,” jawab si wanita.

“Apa yang terjadi?” tanya Umar.

“Kami tidak dapat melanjutkan perjalanan karena sudah larut malam dan udara sangat dingin,” jawabnya kembali.

“Mengapa anak-anak itu menangis?”

“Lapar”, jawab wanita dengan nada sedih.

Sambil menunjuk ke arah kuali yang diletakkan di atas api, Umar bertanya lagi, “Kalau kuali itu apa isinya?”

“Air. Saya mengaja memasaknya agar mereka diam dan tertidur,” kata wanita itu.
“Demi Allah, Umar bertanggung jawab kepada Allah tentang kami.”

“Semoga Allah merahmatimu wahai Ibu. Apa Umar tidak tahu tentang hal ini?”

“Dia pemimpin kami tetapi tidak peduli kepada nasib kami,” jawab wanita itu.

Wanita itu tidak tahu kalau lelaki yang ada di hadapannya adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab, pemimpin yang dianggapnya telah lalai mengurusi rakyatnya.

Maka, Umar pun berkata kepada Aslam, “Kita segera pulang. Kita ambil makanan dan daging!”

Setelah sampai di Baitul mal. “Taruhlah di pundakku,” kata Umar. Dia menyuruh Aslam agar mengangkat makanan itu ke pundaknya. “Biar, saya saja yang memanggulnya,” pinta Aslam.

“Tidak, ini tanggung jawabku di hadapan Allah pada hari Kiamat nanti,” tegas Umar.

Maka, dengan memanggul karung berisi makanan, Umar bersama Aslam kembali ke tempat wanita itu berada. Setelah sampai. Umar membukanya lalu menyalakan api untuk memasak. Agar apinya besar, Umar meniup-niupnya sampai asap keluar dari sela-sela jenggotnya. Selesai memasak, dia menghidangkannya seraya berkata kepada si wanita.

“Berilah makan anak-anakmu.”

Dengan wajah bahagia, wanita ini berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada engkau. Sungguh, engkau lebih baik daripada Umar.”

Umar bin Khattab masih bersama mereka sehingga anak-anak itu tertidur pulas. Sebelum beranjak pergi, Umar memberi sejumlah harta sebagai bekal bagi keluarga tersebut.

Kepada Aslam dia berkata, “Wahai Aslam, sesungguhnya rasa laparlah yang membuat anak-anak itu menangis dan tidak bisa tidur.” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khulafaur Rasyidin, hlm. 188-9)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *