Surgi Mufti Pernah Menaruh ‘Iri’ pada Datu Bakumpai

Surgi Mufti, Syekh Jamaluddin Sungai Jingah. Sumber: Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Surgi Mufti atau Syekh Jamaluddin Sungai Jingah, Banjarmasin pernah menaruh iri pada sosok pamannya, Syekh Abdussamad Bakumpai (Datu Bakumpai), Marabahan. Pasalnya, Sang Paman mendapatkan ilmu yang tak biasa dalam waktu yang cukup singkat.

Syekh Abdussamad termasuk ulama yang cukup singkat mengaji pada ulama di Tanah Suci. Namun dalam waktu yang singkat itu, beliau mendapat banyak ilmu, bahkan lebih banyak dari orang yang menuntut ilmu di sana selama puluhan tahun.

Siapa Syekh Abdussamad?

Syekh Abdussamad atau yang kemudian dikenal dengan Datu Bakumpai adalah anak dari ulama bernama Syekh Jamaluddin –seorang Mufti di Kerajaan Banjar- dan cucu dari ulama besar tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Syekh Abdussamad dilahirkan pada 24 Dzulqa’idah 1237 H/12 Agustus 1822 di Marabahan (Batola-Kalimantan Selatan). Dia besarkan dalam bimbingan ayahnya yang dikenal sebagai ulama besar di Tanah Banjar pada zamannya.

Setelah dirasa cukup, Syekh Abdussamad kemudian meneruskan pencarian ilmu ke Desa Dalam Pagar, Martapura. Dalam Pagar adalah sebuah desa yang dibangun oleh Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kelampayan.

Di desa itu, Datu Kelampayan menggelar sebuah halaqoh (majelis) untuk keluarga dan masyarakat untuk mengkaji ilmu. Alumni halaqoh tersebut kemudian disebar ke seluruh penjuru Kalimantan untuk berdakwah.

Sekarang, halaqoh tersebut dijadikan sebagai sebuah Pondok Pesantren. Dalam perjalanannya, pesantren itu kerap berubah nama, hingga disepakati dinisbahkan kepada pendiri halaqoh tersebut, yakni dinamai Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Berguru ke Tanah Suci

Beberapa tahun di Martapura, Syekh Abdussamad kemudian mengemban tugas untuk menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok daerah. Hingga beliau memperistri seorang wanita bernama Siti Adawiyah binti Buris. Dari wanita tersebut, beliau dikaruniai 4 orang anak:

Zainal Abidin, Abdurrazak, Abu Thalhah, dan Siti Aisyah.

Kendati sudah memiliki anak, Syekh Abdussamad tak lantas berhenti menimba ilmu, dia kemudian berangkat dengan putranya yang bernama Abdurrazak ke Tanah Suci, untuk menimba ilmu pada ulama-ulama besar di zaman itu. Di antara ulama yang menjadi guru Syekh Abdussamad di sana:

1. Syekh Sulaiman al Zuhdi an Naqsyabandi

Pada Syekh Sulaiman, Syekh Abdussamad mendapatkan ijazah Thoriqat Naqsyabandiyah Qadiriyah.

2. Syekh Sulaiman Muhammad Sumbawa

Syekh Sulaiman Muhammad adalah seorang murid dari Maulana Syekh Muhammad Saleh Rais Asy Syafi’I yang pernah menjabat sebagai Mufti di Makkah. Dari Syekh Sulaiman Muhammad, Syekh Abdussamad mendapat ijazah Thoriqat Syadziliyah.

Thoriqat Syadziliyah ini kemudian menjadi “ciri khas” ulama keturunannya. Di antara ulama yang masyhur sebagai Mursyid Thoriqoh ini dari keturunan beliau adalah Tuan Guru H Basyuni.

Banyak ulama Banjar yang datang ke tempat Tuan Guru H Basyuni atau disebut Tunji (Tuan Haji) Basyuni meminta ijazah thoriqoh tersebut.

3. Syekh Khatib Sambas

Pada ulama asal Kalimantan Barat ini, Syekh Abdussamad tidak diketahui mendapatkan ijazah thoriqah tertentu. Sebab tidak ditemukan referensi yang meneliti soal itu hingga tulisan ini diterbitkan.

Namun demikian, Syekh Khatib Sambas adalah salah satu Mursyid Thoriqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Setelah 8 tahun di Makkah –waktu menuntut ilmu yang cukup singkat masa itu-, Syekh Abdussamad berniat pulang ke kampung halaman.

Niat itu kemudian diberitahukannya pada keponakannya Syekh Jamaluddin (Surgi Mufti) yang juga menimba ilmu di Tanah Suci.

Mendengar penuturan Sang Paman seperti dikutip dari Buku ‘Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan’, Surgi Mufti berkata, “Wahai paman, mengapakah paman ingin sekali segera pulang, sedangkan paman baru 8 tahun berada di sini, sedangkan ananda yang sudah hampir 30 tahun belum terbersit untuk pulang kampung, karena ananda merasa masih sedikit mempunyai ilmu.”

Setelah perbincangan itu, keduanya salat berjamaah dan Syekh Abdussamad yang menjadi imam salat. Pada saat itu lah keganjilan terjadi, Syekh Abdussamad ketika mengangkat takbir tidak terlihat lagi jasadnya. Baru ketika menjelang salam di akhir shalat, jasadnya terlihat kembali.

Syekh Jamaluddin terkejut melihat hal demikian, dan mulai memahami bahwa Sang Paman sudah mencapai derajat kewalian.

Setelah salat, mereka kemudian bertukar pikiran. Dan saat itulah Sang Paman memberitahukan bahwa para gurunya memberikan ilmu kepada beliau dengan menumpahkan ilmu mereka. Bukan sedikit demi sedikit seperti yang ditempuh kebanyakan orang.

Hal itu menunjukkan kekokohan dasar keilmuan Syekh Abdussamad yang mantap, sehingga para ulama (para guru beliau) mudah menumpahkan ilmu mereka.

Sementara sang keponakan, Syekh Jamaluddin, bertekad tak akan pulang jika tidak mendapatkan ilmu seperti yang didapatkan Sang Paman.

Dikutip berbagai Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *