Mengintip Menu Buka Puasa Khas Aceh Sejak Era Kesultanan

Seorang petugas di Masjid Al-Furqan Gampong Beurawe, Banda Aceh, sedang mengolah menu khas Aceh saat buka puasa sejak era kesultanan. FOTO-Antara

apahabar.com, BANDA ACEH – Saban puasa Ramadan ada yang spesial di Masjid Al-Furqan Gampong Beurawe, Banda Aceh.

Di sana tersedia menu buka puasa khas Aceh, yang dikenal sejak era kesultanan.

Namanya Kanji Rumbi. Kanji Rumbi merupakan salah satu penganan khas Aceh yang berbentuk bubur.

Kuliner ini salah menu sajian untuk berbuka puasa yang sangat dinanti warga Beurawe ketika Ramadan.

Budi Dharma (48) dan asistennya yang bertugas memasak Kanji Rumbi dalam dua belanga besar saban harinya.

Setelah masak, kemudian Kanji Rumbi dibagikan kepada masyarakat secara gratis.

“Satu belanga Kanji Rumbi ini kita bagikan ke masyarakat dan satu belanga lagi untuk masyarakat yang berbuka puasa di masjid,” kata Budi di Banda Aceh dikutip apahabar.com dari Antara, Sabtu (24/4/2021).

Sejak 30 tahun lalu, Masjid Al-Furqan tidak pernah absen untuk memasak Kanji Rumbi.

Selain rasanya yang lezat, bubur khas Tanah Rencong itu juga dipercayai memiliki banyak khasiat untuk kesehatan tubuh.

Untuk memasak Kanji Rumbi membutuhkan waktu dua hingga tiga jam.

Setelah beras masak menjadi bubur, baru kemudian dimasukkan beragam sayuran dan rempah-rempah yang sudah digiling sebagai bahan utama Kanji Rumbi.

Bahan yang perlu dipersiapkan untuk memasak Kanji Rumbi di antaranya seperti beras, udang, serai, wortel, jahe, daun sop dan beberapa bahan lainnya.

Sebagian bahan dicencang, kemudian disatukan dalam belanga besar.

Untuk menambahkan kelezatannya, Budi juga menambah udang yang sudah dipotong kecil-kecil ke dalam belanga, kemudian bercampur dengan beras dan rempah-rempah lainnya.

“Udang ini bisa juga diganti dengan daging, ini tergantung selera masing-masing. Tetapi bahan utamanya itu beras dan rempah-rempah,” katanya, menjelaskan.

Biasanya, 15 menit sebelum adzan Salat Ashar, Kanji Rumbi sudah masak dan siap untuk dibagikan.

Warga dari lintas usia mulai berdatangan menenteng mangkuk-mangkuk kecil untuk menampung kanji tersebut.

Dia menyebutkan panitia menghabiskan dana sebesar Rp800 ribu per belanga untuk memasak Kanji Rumbi.

Setiap hari panitia memasak kanji dua belanga sehingga harus merogoh kocek Rp1,6 juta.

Memasak Kanji Rumbi tersebut rutin dilakukan setiap harinya selama bulan suci Ramadan, sehingga dana yang dibutuhkan bisa mencapai Rp48 juta.

Semua biaya itu bersumber dari sumbangan sukarela masyarakat Beurawe.

“Dana itu dari sumbangan masyarakat. Apabila tidak mencukupi baru ditalangi oleh masjid. Jadi masyarakat sangat mendukung untuk melestarikan tradisi memasak Kanji Rumbi ini,” kata Budi.

Kanji Rumbu, menu buka puasa khas Aceh sejak era kesultanan. Foto-net

Khasiat

Warga asli Gampong Beurawe itu mengatakan Kanji Rumbi dinilai mengandung banyak khasiat untuk kesehatan tubuh.
Kuliner ini dianggap ampuh menjadi obat masuk angin, kolestrol, asam lambung, darah tinggi, maag dan berbagai penyakit lainnya.

“Karena di dalam Kanji Rumbi ini mengandung berbagai macam rempah-rempah yang bisa menjadi obat,” kata Budi.

Jadi berbuka puasa dengan Kanji Rumbi ini membuat perut terasa segar dan perut juga tidak kembung, katanya lagi.

Kanji Rumbi memang jarang ditemui di luar Ramadan.
Bahkan, di Banda Aceh hanya Gampong Beurawe yang masih melestarikan tradisi turun-temurun sejak zaman dahulu itu.

Namun untuk saat ini, dia menambahkan, masyarakat Beurawe tidak hanya memasak Kanji Rumbi ketika Ramadan, tetapi juga kerap menerima pesanan memasak Kanji Rumbi di luar Ramadan, sebagai menu bagi warga yang menggelar hajatan.

Jadi sekarang ada juga warga yang meminta untuk dibuatkan Kanji Rumbi dan mereka siap membantu.

Ia menjelaskan, proses memasaknya juga tetap di areal Masjid Al-Furqan.

Era Kerajaan

Pemerhati Sejarah Aceh Tarmizi Abdul Hamid mengatakan Aceh memang terkenal dengan berbagai kuliner khasnya, salah satunya Kanji Rumbi.

Menurut pria yang akrab disapa Cek Midi itu, Kanji Rumbi tidak sekadar kuliner yang lezat untuk dinikmati saat berbuka puasa, tetapi juga mengandung banyak khasiat yang ampuh sebagai obat.

“Karena bumbunya seperti jahe, daun serai, kunyit dan lainnya merupakan resep obat sejak dulu kala. Jadi makan bubur kanji rumbi ini menyehatkan,” kata Cek Midi.

Menurut dia Kanji Rumbi makanan budaya yang dibawa dari negara India.

Kuliner modifikasi tersebut sudah ada sejak abad ke 16 masa kejayaan Kesultanan Aceh.

“Jadi ketika dulu orang datang ke Aceh pada saat Kerajaan Aceh sangat maju, berbagai bangsa datang ke Aceh mereka membawa makanannya masing-masing,” ujarnya.

Kata dia kuliner modifikasi dalam artian kuliner yang dibawa oleh orang India yang mayoritas beragama Hindu ke Aceh, kemudian dimodifikasi ke budaya Aceh yang sesuai dengan syariat Islam.

Pada zaman itu, kata dia, selain Kanji Rumbi, banyak budaya-budaya lain dari India yang juga dimodifikasikan menjadi suatu yang khas dalam lingkaran syariat Islam di daerah Serambi Mekkah itu.

Menurut Cek Midi, Kanji Rumbi memang terkenal dengan kaya akan khasiat.

Di samping itu koki yang memasaknya juga tidak sembarangan orang, hanya mereka yang telah memiliki keahlian yang didapatkan secara turun-temurun.

“Jadi bagaimana ciri khasnya, kemudian aroma dari Kanji Rumbi serta prosesnya itu sudah ada pola di masing-masing koki di kampung,” katanya.

Ia menyebutkan sejak era kesultanan, Kanji Rumbi memang jarang ditemui di luar Ramadan.

Kanji Rumbi merupakan sajian khusus raja-raja atau menu spesial bagi tamu istimewa kerajaan saat Ramadan.

“Jadi sekarang kalau ada Kanji Rumbi yang disediakan di luar Ramadhan maka itukan lebih bagus lagi, sebagai upaya untuk merawat tradisi,” katanya.

Selain Kanji Rumbi, menurut dia, di Aceh juga terkenal kuliner yang serupa dengan Kanji Rumbi tetapi tak sama, yakni Ie Bue Peudah.

Kuliner itu terbuat dari 44 daun rempah-rempah yang juga memiliki khasiat untuk kesehatan.

Cuma Ie Bu Peudah ini tidak segurih seperti Kanji Rumbi, karena Kanji Rumbi ini spesial hidangan raja-raja pada bulan Ramadhan.

Sementara Ie Bu Peudah itu untuk orang-orang di kampung, dayah dan meunasah (mushala).

Newswire

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *