Masjid Ba-angkat di Kandangan Ternyata Didirikan oleh Penumpang Perahu Pangeran Antasari

Masjid Suada atau masjid Ba-angkat. Foto-apahabar.com/Syamsuri

apahabar.com, KANDANGAN – Berjarak Sekitar 7 kilometer dari Pusat Kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, terdapat satu masjid yang menjadi salah satu Cagar Budaya di kabupaten tersebut.

Masjid itu adalah Masjid Su’ada atau yang lebih dikenal dengan Masjid Ba-angkat. Masjid ini terlelak di Desa Wasah Hilir, Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan(HSS)

Pengurus Masjid Ba-angkat, Badrul Kamal menuturkan, berdirinya masjid tersebut pada tahun 1908 Masehi oleh salah seorang ulama yang dikenal Tuan Haji Abbas bin Syekh Abdul Jalil bin Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Tuan Haji Abbas sendiri berasal dari kampung Dalam Pagar, Martapura, Kabupaten Banjar. Dia disebut Badrul Kamal menumpang perahu Pengeran Antasari ketika menuju Hulu Sungai. Setelah sampai di desa Wasah Hilir (Simpur ), Tuan Haji Abbas memilih berpisah dari rombongan dan menetap di desa tersebut. Sementara itu, rombongan Pengeran Antasari meneruskan perjalanan menuju ke Padang Batung.

“Setelah lama tinggal di Desa Wasah, makin banyak warga yang ingin menjadi murid Tuan Haji Abbas. Hingga kemudian, kediaman beliau tidak lagi dapat menampung banyaknya murid,” ujar Badrul Kamal.

Untuk itulah, sambungnya, pada Tahun 1908 Masehi bertepatan 28 zulhijjah 1328 Hijriyah didirikanlah masjid yang dinamakan Masjid Su’ada.

“Masjid Su’ada telah banyak didatangi oleh pengujung berbagai Daerah bahkan Manca Negara untuk melakukan Penelitian,” beber Badrul.

Mengutip tulisan Fajar Ikhsandi di Kompasiana, dikenal dengan nama Masjid Ba-angkat dikarenakan masjid tersebut bentuknya menyerupai rumah panggung dengan lantai dasar yang diangkat dan tidak menyentuh tanah. Sehingga, masjid ini mempunyai kolong sebagai antisipasi banjir dan serangan hewan buas.

Fajar menyebut pendiri masjid adalah Tuan Haji Abbas juga Abbas dan Haji Muhammad Sa’id bin H Mayasin.

Masjid Ba-angkat dibangun dengan bahan bangunan seluruhnya dari kayu ulin. Menariknya, hingga sekarang masjid berumur ratusan tahun itu masih kokoh dan belum pernah direnovasi.

Masjid ini memiliki arsitektur yang unik, kayu-kayunya tidak ada satu pun yang dipaku, melainkan menggunkan teknik berasuk atau menggunakan pasak.

Adapun nama Su’ada diambil dari nama salah satu pendiri, yakni Sa’id.

Sementara itu, bangunan masjid ba-angkat didirikan di atas tanah wakaf seluas 1047,25 M. Tanah wakaf itu sendiri merupakan tanah wakaf dari dua orang warga kampung Wasah Hilir.

Penulis: Syamsuri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *