Makam Keramat Datuk Kandang Haji Balangan, Terungkap Mengapa Selalu Diziarahi

Makam keramat Datuk Kandang Haji di Balangan. Foto-apahabar.com/Junaidi.

apahabar.com, PARINGIN – Datuk Kandang Haji memiliki nama asli Surya Sakti Mangku Alam.

Namun, nama Datuk Kandang Haji lebih melekat pada dirinya.

Makamnya berada di Desa Teluk Bayur, Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan. Dulunya wilayah ini bernama Beluning.

Lokasi makam Datuk Kandang Haji berada 24 kilometer dari Kota Paringin, Balangan.

Menurut Pengelola Makam Datuk Kandang Haji, H Sani, nama Kandang Haji didasarkan cerita masyarakat setempat.

Cerita itu menyatakan bahwa desa tersebut dipagari atau dikandangi dengan doa-doa.

Tujuannya untuk mencegah masuknya para penjahat, termasuk penjajah.

Legenda di masyarakat menyebutkan pula bahwa tokoh Datuk Kandang Haji awalnya bernama Patih Bentar Alam.

Sementara diriwayat lain, juga disebutkan bernama Datuk Surya Sakti Mangku Alam.

“Setelah memeluk Islam beliau menunaikan ibadah haji ke Mekkah dengan berjalan kaki, setelah pulang ke kampung halaman ia mengajar dan menyebarkan ilmu agama Islam kepada masyarat luas,” ujar H Sani, Minggu (18/04/2021).

Diketahui pula Datuk Kandang Haji merupakan putra daerah setempat. Ia hidup dari keluarga petani yang sederhana.

Selain dulunya aktif menyebarkan dakwah ke masyarakat, Datuk Kandang Haji juga membangun beberapa masjid.

Masjid yang dibangunnya adalah Masjid Al Mukarramah di Desa Bangkal, Kecamatan Halong, Masjid Jannatul Ma’wa di Desa Buntu Karau Kecamatan Juai, dan Masjid Sirajul Huda di Desa Paran Kecamatan Paringin.

Sementara itu beberapa barang yang menjadi peninggalannya antara lain adalah Alquran tulisan tangan, cukmar (tongkat khatib), piring melawen besar, dan petaka kayu.

Selain peninggalan, Makam Datuk Kandang Haji juga memiliki keunikan.

Tersiar sejak dulu sampai sekarang yakni disebut makam panjang.

Panjang makamnya kurang lebih 11 meter dan lebarnya kurang lebih 4 meter.

Saat ini makam tersebut berada di dalam pagar besi.

Di dalam pagar tersebut ada dua nisan dari kayu ulin, kemudian bertambah menjadi beberapa nisan.

Makam tersebut dianggap berkeramat, lantaran dipercaya masyarakat sebagai salah satu tempat diijabahnya doa.

“Makam Datu Kandang Haji tersebut dikeramatkan oleh masyarakat, dijadikan tempat ziarah dan syukuran. Salah satu akibatnya, nisan bertambah karena penziarah mengucapkan nazar di tempat tersebut dan terkabul,” ujar H Sani.

“Sebagai ungkapan rasa syukur yang bersangkutan menancapkan nisan baru, selain itu juga ada kain kuning,” jelas H Sani.

Setiap gelaran haul Datul Kandang Haji di lokasi makam yang dipimpin KH Asmuni atau Guru Danau, selalu dibanjiri jemaah.

Mereka ada yang berasal dari sejumlah kota di Kalsel, seperti Tanjung, Banjar, Rantau, Kotabaru, dan lainnya.

Bahkan menurut H Sani, jemaah yang datang ada dari provinsi tetangga; Kaltim dan Kalteng.

Sebelumnya mantan Ketua MUI Kalsel, Alm KH Prof Asywadie Syukur pernah meriwayatkan Datu Kandang Haji hidup diperkirakan pada Abad 17 dan 18 masehi.

Sementara Dosen IAIN Antasari Banjarmasin, DR Asmaran AM MA saat membacakan manakib Datuk Kandang Haji menyebutkan lebih dulu hidup dari Datuk Kelampayan atau Syekh Muhammad Arsyad Albanjari.

Menurut cerita, Datuk Kandang Haji diislamkan oleh Khatib Dayyan. Ada yang menyebut jika Datuk Kandang Haji semasa hidup hanya mengajar Alquran. Namun ada pula meyakini dia mengajarkan ilmu tasawuf.

Penulis: AHC24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *