Kisah Keutamaan Istigfar, Seorang Ulama Besar Sampai Diusir dari Masjid

Ilustrasi Sumber: Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Imam Ahmad bin Hanbal tokoh ulama yang merupakan pendiri Mazhab Hanbali pernah terusir dari masjid, lantaran istigfar yang dipanjatkan seorang penjual roti. Bagaimana ceritanya?

Apahabar.com mengutip instagram osmanlimedia yang meceritakan riwayat hidup Imam Hanbali.

Kisah itu berawal saat Imam Hanbali ketika sudah usia tua. Beliau bercerita, “Suatu ketika (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak.” Padahal, sebenarnya Imam Hanbali tidak punya janji dengan seseorang di kota itu.

Akhirnya, ulama yang lahir di Baghdad pada tahun 164 H itu berangkat menuju Bashrah.

Dalam kisah manaqibnya beliau berkata, “Pas tiba di sana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya pingin istirahat.”

Setelah selesai shalat dan jamaah telah bubar, Imam Ahmad pingin tidur di masjid, tiba-tiba ada seorang penjaga masjid menemuinya dan bertanya, “Kenapa syeikh, mau ngapain di sini?”

Untuk diketahui arti kata “syeikh” sendiri bisa merujuk pada orang tua, orang kaya ataupun orang alim (berilmu).

Panggilan “syeikh” oleh marbot tersebut merujuk pada orang tua. Imam Hanbali pun tidak memberitahukan siapa dirinya kepada marbot tersebut.

Sosok Imam Ahmad sendiri adalah ulama yang sangat populer di Baghdad, hamper semua orang kenal dengannya, seorang ulama zuhud ahli dan hafal banyak hadist, karena pada saat itu tidak ada foto sehingga tidak banyak yang tahu dengan wajahnya.

Imam berkata, “Saya ingin istirahat, saya musafir.”

Menanggapi hal itu penjaga masjid tersebut berkata, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”

Kemudian marbot tersebut mendorong Imam Ahmad dan menyuruhnya untuk keluar dari masjid.

Setelah diusir Imam Ahmad pun bermaksud tidur di teras masjid.

Akan tetapi ketika sudah terbaring di teras masjid, marbot itupun datang lagi, dan memarahi Imam Ahmad.

“Mau ngapain lagi syeikh?” tanya marbot itu.

“Mau tidur, saya musafir,” kata Imam Ahmad.

“Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh,” kata marbot itu mengusir.

Di samping masjid ada sebuah rumah kecil yang membuat dan menjual roti, sembari membuat adonan, penjual roti itu melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot masjid.

Sesampainya Imam Ahmad di jalanan, penjual roti itu memanggil dari kejauhan: “Mari syeikh, anda boleh menginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”

Tanpa fikir panjang Imam Ahmad berkata, “Baik.”

Imam Ahmad pun masuk ke rumahnya, dan duduk di belakang penjual roti itu tanpa memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai seorang musafir.

Penjual roti itu mempunyai kebiasaan unik, jika Imam Ahmad mengajaknya berbicara, dijawabnya.

Namun jika tidak dia hanya terus membuat adonan roti sembari melafalkan istigfar, “Astagfirullah.”

Saat meletakan garam ia ucapkan istigfar, memecahkan telur istigfar, mencampur pun gandum ia beristigfar.

Lalu Imam Ahmad pun bertanya, “Sudah berapa lama kamu melakukan ini?”

“Sudah lama sekali syeikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan,” ungkap penjual roti itu.

Imam Ahmad kembali bertanya: “Ma tsamarotu fi’luk? (apa hasil dari perbuatanmu ini?”

Tukang roti itupun menjawab: “(lantaran wasilah istigfar) tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah, langsung diterima.”

“Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan,” tambahnya.
Penasaran Imam Ahmad kembali bertanya: “Apa itu?”

“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad,” ujar penjual roti.

Mendengar hal itu, seketika itu Imam Ahmad langsung menyerukan takbir, dan berkata: “Allahu Akbar! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah, bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid ke jalanan ternyata berkat istigfarmu.”

Penjual roti itu pun terperanjat seraya memuji kebesaran Allah. Dia tak menyangka kalau orang tua yang ia ajak menginap ditempatnya adalah seorang ulama besar yang dirindukannya.

Penulis: Triaji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *