Kisah Kelam Febby, ‘Ayam Kampus’ yang Kemudian Membasuh Diri

Ilustrasi. Foto- net

apahabar.com, BANJARMASIN – Sempat masuk dalam kubangan maksiat, Febriani atau Febby kemudian membasuh diri. Dia bertobat dan menempuh jalan ibadat. Berikut curhatannya tentang masa lalunya hingga menemukan hidayah.

“Apa yang saya jalani sekarang lebih tenang. Walau mulai lagi dari nol dan tidak punya apa-apa, tapi insya Allah berkah. Inspirasi saya Alquran surat al-Fath ayat empat itu,” tuturnya.
Febby pun mengutip ayat Alquran, “Dialah (Allah) yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang yang beriman, supaya keimanan mereka makin bertambah dan keimanan mereka yang telah ada.” (QS al-Fath [48]: 4).

Febby berkisah, nasib tragis yang menjeratnya sampai ke kehidupan malam berawal dari pelecehan seksual yang dialaminya. “Waktu kuliah saya pernah jadi korban pelecehan seksual dari teman-teman saya di kampus. Setelah itu, saya malah jadi masuk lebih dalam. Kalau orang kan biasanya tobat. Tapi saya justru malah masuk ke dunia itu,” kisahnya.

“Jadi berawal dari korban, kemudian jadi pelaku, setelah itu malah saya yang mengkoordinir,” tambahnya.

Awalnya, Febby hanya bekerja sebagai pemandu lagu. Makin lama ia makin jatuh lebih dalam di kehidupan hedonis. “Dulu itu sempat jadi PL (Pemandu Lagu) di tempat-tempat karaoke.

Akhirnya saya malah yang koordinir PSK dan PL, kayak maminya gitu,” kisahnya.

Febby melanjutkan kembali kisahnya. Dia mengungkapkan, alasannya mengikuti dunia malam karena kebutuhan ekonomi. Di samping itu, ia ingin pengakuan dan eksistensi di kalangan teman-temannya sebagai wanita yang dihormati.

“Dulu itu, kita baru gaul itu kalau sudah masuk ke dunia malam. Kalau di pergaulan, kita baru mendapatkan pengakuan kalau kita pakai barang-barang yang bermerek,” jelasnya.

Empat tahun terjebak di dunia malam, Febby mulai merasakan kegelisahan. Walau ia berkecukupan materi, tapi tetap saja batinnya gersang. Saat itulah teguran-teguran Ilahi dirasakannya.

“Waktu itu saya sedang terpuruk. Finansial saya jatuh. Uang hasil itu saya pakai untuk usaha dan investasi. Tapi malah bangkrut dan rugi. Waktu itu Allah menegur saya,” katanya.

Kebangkrutan yang ia alami bahkan mencapai ratusan juta rupiah. Ia tertipu rekan bisnis dan malah akhirnya dikejar-kejar hutang. Perusahaan tempatnya bekerja pun bangkrut sehingga ia harus di PHK.

Dakwah Indah Korban Perampokan di Amerika

“Ketika itu saya ada di puncak kejahilian. Waktu itu saya kumpulkan uang dari hasil yang benar dan ngak benar dan sebagian minjam dari bank. Saya jadikan untuk investasi dan bisnis. Tapi ujungnya saya tertipu,” paparnya.

Puncak cobaan Febby pun datang. Tak lama setelah ia melahirkan, bayinya yang malang akhirnya meninggal dunia karena kelainan paru-paru. Tak hanya itu, Febby juga divonis menderita radang rahim dari dokter. Ia jadi makin terpuruk.

“Di titik itu, saya nonton tv. Acaranya Great Muslimah Teteh Febrianti Almira sedang di interview. Saya langsung hubungi kontak person yang ada di bawahnya itu setelah beres acara,” ujarnya.

Febby datang langsung ke acara menemui beberapa pengurus Komunitas Great Muslimah (KGM). Batinnya yang dahaga langsung tercerahkan dengan hangatnya sambutan pengurus KGM.

“Alhamdulillah, tidak ada penghakiman dari mereka. Mereka menerima saya dengan sangat baik. Memang kalau orang dari masa suram itu butuhnya penerimaan dulu. Akhirnya saya dibimbing untuk berubah. Hijrah saya dimulai dari situ,” paparnya.

Febby punya lingkungan baru dari teman-temannya yang baik dan shalehah. Ia terus aktif, karena selama bergabung di KGM, dahaga batinnya selalu terobati. Setelah 1,5 tahun aktif di KGM, ia diangkat menjadi salah seorang pengurus. Ia dipercaya menangani bidang pembentukan dan konseling. Sering sekali ia menerima curhatan dan menangani kaum wanita yang juga ingin hijrah seperti dia.

“Setelah hijrah, saya tidak ingin orang-orang bernasib seperti saya. Mudah-mudahan tidak ada yang seekstrem saya. Tapi kalaupun ada, mari sama-sama kita berbenah. Masih ada waktu,” tuturnya seperti dilansir Republika, Jumat (9/4/2021).

Sumber: Newswire

Editor: Muhammad Bulkini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *