Daya Pikat Masjid Al-Abrar, Dua Alquran Terbesar di Kalsel Hasil Tulis Tangan

Alquran hasil tulis tangah H Yusri Fauzi berukuran besar yang disimpan di Masjid Al-Abrar Kandangan. Foto-apahabar.com/Syamsuri.

apahabar.com, KANDANGAN – Masih ingat dengan Alquran berukuran jumbo yang terdapat di Kandangan, Hulu Sungai Selatan?

Dua mushaf Alquran itu kini menjadi daya pikat bagi masyarakat yang berwisata religi ke kawasan Hulu Sungai.

Berkunjung ke Masjid Al-Abrar Kandangan, tepatnya di Jalan A Yani No. 54 RT 01 RW 01.

Siang itu cukup terik, namun pemandangan berbeda berasal dari dalam mesjid yang bernuansa hijau dan kuning itu.

Memasuki pintu utama, tepatnya di etalase masjid terpajang beberapa kitab dan Alquran yang tersimpan rapi dalam lemari.

Termasuk dua Alquran jumbo yang menjadi daya tarik pengunjung.

Jurnalis apahabar.com berkesempatan berbincang langsung dengan penulisnya, H Yusri Fauzi, warga Desa Gambah Luar.

Rumahnya berada persis berhadapan dengan Masjid tersebut.

Yusri masih nampak prima di usia senjanya yang menginjak 71 tahun.

Pria kelahiran 13 Maret 1950 ini berkisah tentang perjalanannya menyelesaikan dua kitab suci umat Islam dengan ukuran berbeda.

Cukup menakjubkan, sebab selain diolah dengan tulisan tangan langsung, Alquran tersebut juga memiliki berat hingga puluhan kilogram.

Alquran pertama berukuran 60×90 cm dengan berat sekitar 45 kilogram, lalu yang kedua memiliki ukuran 111×80 cm dengan berat 75 kilogram.

“Al Quran jumbo pertama di tulis pada tahun 2015 sampai dengan 2017 dengan ukuran 60×90 cm. Sedangkan Al Quran kedua pada tahun 2017 hingga 2019 dengan ukuran 80×110 cm,” ceritanya.

Tidak mudah untuk membuat Alquran raksasa ini, Yusri bahkan sempat mengalami stroke di bagian tubuh sebelah kanan, hingga diputuskan untuk menulis dengan tangan kirinya.

Baris demi baris ditulisnya penuh semangat hingga dapat menyelesaikan sebanyak 30 juz Alquran.

Proses pembuatan Alquran raksasa ini juga dilakukannya seorang diri. Termasuk menggunakan dana pribadi.

“Ya, seperti membeli kertas buffalo, tinta dan termasuk penjilidan,” sebutnya

Ayah dari tiga anak ini merupakan seorang pensiunan guru sekolah negeri.

Ia kini lebih banyak aktif sebagai pengurus Masjid untuk mengisi waktu sehari-hari.

Salah satu kebiasaannya adalah mengajak jemaah dan pengurus masjid untuk ikut menyempatkan membaca Alquran ketika memasuki masjid.

Terkadang, saat membaca ia juga sambil merevisi jika ada yang tertinggal baris dalam penulisannya.

“Disarankan bagi jemaah minimal satu ayat membaca Alquran, ketika memasuki Masjid Al-Abrar,” pesannya.

Bakat seni Yusri sebenarnya sudah terlihat sejak ia remaja.

Handal dalam melukis, Yusri kecil juga pernah menerima penghargaan sebagai juara pertama kaligrafi se-Kalsel pada 1994.

Ia juga sempat dipercaya sebagai dewan juri dalam gelaran Musabawah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional se-Kalsel.

Salah satu motivasi Yusri ketika membuat Alquran terbesar adalah inspirasi saat perjalanan ibadah umrah di 2016 lalu.

Terdapat museum Alquran Madinah dengan berbagai koleksi yang membuatnya tertarik untuk menulis Alquran.

Harapannya pun sederhana, adanya Alquran ini, jemaah maupun pengurus Masjid Al-Abrar dapat menjadi generasi penerus yang mencintai kitab suci agama Islam dan mendapat keridhaan dari Allah SWT.

H Yusri Fauzi. Foto-istimewa

Penulis : Syamsuri
Dilengkapi : Musnita Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *