Cara Mengatur Pola Tidur yang Baik Selama Ramadan

Ilustrasi Sumber: net

apahabar.com, JAKARTA – Pola tidur yang kurang baik saat Ramadan dapat berakibat buruk pada tubuh dan berpengaruh dengan kesehatan, namun jangan khawatir semua itu ada solusinya.

Melansir Republika.co.id yang mengutip Khaleej Time, Senin (26/4), berikut tips-tips yang dapat dilakukan agar tidur berkualitas dari Dokter Supriya Sundaram konsultan obat tidur dari rumah sakit Burjeel, Abu Dhabi.

Dokter yang juga dosen di strata sarjana dan pascasarjana itupun menjabarkan tentang penelitiannya bahwa kurang tidur dapat berakibat, berkurangnya kewaspadaan, suasana hatinya terganggu, hingga meningkatkan resiko cidera.

Puasa intermiten (konsep diet dengan puasa delapan jam penuh tanpa makan dan minum) di bulan ramadan mempengaruhi tidur juga telah di pelajari ekstensif.

Tidur memiliki berbagai tempat dalam arstikturnya, salah satunya ketika berbaring di tempat tidur disebut latensi tidur dan cenderung meningkat selama bulan suci ramadan.

Ia menyebut, bahwa puasa ramadan juga membuat total waktu tidur seseorang akan berkurang hal itu dikaitkan dengan perubahan pola makan dan minum daripada perubahan asupan energi.

Kurangnya tidur juga berdampak pada afisiensi dalam melakukan aktivitas kerja.

“Ditambah dengan kelelahan di siang hari, peningkatan kecelakaan lalu lintas juga telah dilaporkan karena kurang tidur,” kata dia.

Untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik selama Ramadhan merupakan tantangan utama bagi banyak orang.

Dokter Sundaram menyebut, beberapa saran termasuk tidur siang yang kuat di layak dilakukan akan tetapi tidak boleh lebih dari 20-25 menit, karena seseorang mungkin akan tertidur lelap dan bangun dengan perasaan lebih lelah.

Tentang tidur siang kata dia, biasanya dapat membantu seseorang yang hendak mengemudi jauh sebelum berbuka puasa.

Tidur lebih awal setelah berbuka puasa dan memastikan lingkungan tenang dan gelap juga membantu meningkatkan kualitas fungsi tubuh.

Dia menambahkan, diet juga penting untuk kualitas tidur ketika makanan berbuka puasa tinggi kalori dan volume, otak dan tubuh akan tetap aktif saat makanan dicerna, dengan menghindari gorengan dan makanan pedas pasti akan membantu itupun juga berlaku saat sahur.

“Karena siklus kafein diubah selama waktu ini, menghindari terlalu banyak kafein akan menjaga kualitas tidur. Minum banyak air sebagai gantinya,” ujar dia.

Adapun seseorang yang berprofesi sebagai pekerja shift dan pekerja layanan darurat perlu perhatian khusus dalam mempertimbangkan waktu tidurnya.

Mereka, kata Sundaram, dimungkinkan yang paling terpengaruh selama puasa Ramadhan berlangsung. Menjaga iman dan menjadi efisien dalam melakukan pekerjaan secara beriringan bisa jadi sangat sulit.

“Jadi mereka membutuhkan dukungan dan pengertian kita. Perencanaan yang cermat dari jadwal tidur seseorang di sekitar jadwal kerja akan memastikan Ramadhan sukses dan sehat,” kata Sundaram.

Penulis Triaji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *