Biar Tidak Salah Kaprah, Perhatikan Waktu Tidur Saat Berpuasa

Ilustrasi tidur. Foto-net

apahabar.com, BANJARMASIN – Terdapat satu hadist yang menyebut keutamaan berpuasa, di mana aktivitas tidur pun mendapat ganjaran pahala.

Hadist tersebut berbunyi “Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.” (HR Baihaqi)

Tidur dapat bernilai positif jika digunakan dalam mempersiapkan hal-hal bernuansa ibadah.

Tujuannya agar lebih semangat dalam menjalankan ibadah dan tidak mengotori puasanya dengan melakukan perbuatan maksiat, seperti bergunjing.

Agar tidak salah kaprah dan menimbulkan perilaku bermalas-malasan, umat muslim perlu memerhatikan waktu-waktu tidur yang tidak dianjurkan.

Pertama, tidur setelah salat subuh sampai terbitnya matahari.

Di waktu-waktu tersebut merupakan waktu diturunkannya keberkahan rezeki pada seseorang.

Mengutip islam.nu.or.id, Habib Zain bin Smith dalam penjelasannya mengatakan “Tidur setelah subuh menghilangkan berkah rezeki dan berkah umur, sebab berkahnya umat ini ada di waktu pagi, yakni waktu setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari”.

Selanjutnya, tidur setelah masuk waktu Ashar dan sebelum melaksanakan Salat Isya.

Dikhawatirkan saat tidur terlalu lelap sehingga berpotensi meninggalkan waktu salat di waktu-waktu tersebut.

Lantas, kapan saja waktu tidur yang dianjurkan?

Waktu tidur yang dianjurkan oleh syara’ adalah tidur di waktu qailulah. Yakni, setelah tergelincirnya matahari atau setelah masuk waktu zuhur.

Hadist riwayat ath-Thabrani menjelaskan “Tidurlah qailulah (siang hari) kalian, sesungguhnya Syetan tidak tidur di waktu qailulah”.

Fungsi tidur di waktu ini adalah sebagai persiapan agar dapat melaksanakan qiyamul lail dengan salat dan berzikir di malam hari.

Penulis: Musnita Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *