Asal Mula Tiang Masjid Keramat di Tapin Mengeluarkan Minyak

Masjid Al Mukarromah Banua Halat. Foto-Apahabar.com/Sandy

apahabar.com, RANTAU – Ada sebuah masjid di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan yang disebut-sebut Masjid Keramat. Salah satu tiangnya dikatakan selalu mengeluarkan minyak.

Masjid tersebut bernama Masjid Al-Mukarromah atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Keramat Banua Halat.

Masjid tersebut adalah salah satu masjid yang berumur tua di Kalimantan Selatan. Letaknya berada di desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin.

Masjid ini dikenal dengan salah satu tiangnya yang mengeluarkan minyak. Lantas bagaimana asal mula tiang tersebut mengeluarkan minyak?

Juru pelihara Masjid Al-Mukarromah, Yahya menceritakan, menurut sejarah masjid tersebut didirikan oleh H. Syafrullah atau yang dikenal orang terdahulu sebagai Datu Ujung.

“Untuk tahun didirikannya belum ada kepastian kapan dibangunnya,” ujarnya.

Adapun terkait tiang yang selalu mengeluarkan minyak tersebut, Yahya mengatakan, tiang itu adalah tiang yang disambung oleh Datu Ujung. Tiang tersebut semula ada tiga bagian dan dijadikan satu oleh Datu Ujung.

Warga mengetahui tiang tersebut disambung Datu Ujung, sehingga mereka mengambil berkah dengan bekas tangan sang ulama yang pernah mengusap atau memegang tiang tersebut. Di antara warga ada yang mengusapkan minyak wangi ke tiang tersebut.
“Sampai sekarang tiang itu masih mengeluarkan minyak. Ada yang datang mengelus dengan kapas, tisu, ada pula yang dengan uang kertas, sembari memohon doa,” ungkap Yahya.
Selain untuk salat dan berziarah, Masjid Al Mukarromah ini juga dijadikan tempat “Baayun Maulid” pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan banyak kegiatan keagamaan lainnya.

“Selain Ba’ayun maulid, juga pengajian dan macam-macam pokoknya kegiatan keagamaan lah. Kalau dulu sebelum adanya Covid-19 rutin kegiatan pengajian setiap Jumat,” ujar Yahya.
Masjid Al-Mukarromah atau Masjid Keramat Banua Halat untuk bagian dalam berukuran 12×12 meter dan ukuran di luar 16×16 meter.

Penulis: Sandy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *